Banyak orang yang tidak betul2 hidup, kecuali setelah gajian. Ada orang yang menentukan kebahagiaannya dengan besarnya gajian, ada pula yang kebahagiaannya ditentukan dengan tanggal. Ada orang yang betul2 melihat kehidupan dengan gaji. Kalau dia bahagia karena baru terima gaji, kalau dia menegluh karena gajinya kecil.
Banyak orang berdo’a untuk meminta banyak, tetapi memantaskan diri untuk menerima sedikit. Berapa banyak anak muda yang bugar dan terdidik dengan baik; rebutan untuk menjadi pegawai dengan gaji seadanya, asal ada pensiunnya. Mengapa dia tidak memanfaatkan dirinya yang muda dan agresif itu, untuk dinilai semahal mungkin, menyisihkan sebagian pendapatannya untuk pensiun semuda mungkin.
Pensiun-lah saat mobil cepat itu masih berguna, tidak ada gunanya mobil super cepat bagi orang yang sudah gemetaran. Jalan2 keliling dunia, waktu masih menikmati keremajaan dari istri kita.
Marilah kita membebaskan diri dari keharusan gajian. Sampai kapan kita hidup yang kebahagiaannya ditentukan oleh besar atau kecilnya dan kapan terima gajinya. Marilah kita tegas, kalau meminta banyak; maka memantaskan diri untuk menerima yang banyak.
Tuhan tidak mungkin menipu kita, sehingga Tuhan memerintahkan kita untuk melompat dengan gaji kecil, pangkat rendah, penghormatan kecil. semua ini adalah perintah untuk loncat. Tetapi kita tidak loncat karena mempertahankan gaji kecil; karena tidak percaya Tuhan akan menyejahterakan kita, didalam pilihan2 baik.
Sehingga sebetulnya kita menukar Tuhan dengan harga yang rendah.
Kalau kita melihat diri kita dihargai kurang, itu jangan salahkan orang; karena kita tidak berhasil meyakinkan orang, bahwa kita bernilai.
Jadi semua perlakuan tidak baik, harus dilihat sebagai pemberitahuan untuk memperbaiki diri. Karena orang yang tidak menggaji anda dengan baik, itu bukan tanda bahwa akan ada orang lain yang salah menilai anda. Maka jadilah pribadi yang menunjuk-kan nilai, setinggi apa seharusnya anda dibayar.
Belajarlah malu untuk menerima gaji walaupun kecil, kalau yang anda lakukan belum besar.
Sesungguhnya gaji, bayaran atau imbalan itu selalu datang dari penilaian orang terhadap kita. Kita itu terkadang berbeda sebelum bekerja; yaitu baru dari bagaimana kita tampil. Ada orang yang boleh diganggu, ada yang tidak dan ada orang yang mudah dikerjai, ada yang tidak. Jadi ada hal2 yang bisa dan tidak kita lakukan berdasarkan kesan.
Kalau kita mau mengubah perlakuan orang kepada kita, pertama kali adalah mengubah tampilan yang mengundang perlakuan yang merendahkan.
Kalau kita ingin orang lain menghormati kita, kita harus latih untuk tampil baik. Yang lebih hebat dari seseorang adalah apabila anda memiliki kemampuan untuk menyiksa orang, tetapi wajah anda seperti minta disayangi. Hal ini sangat hebat sekali, karena dengannya bisa mendidik orang untuk tidak menyepelekan wajah yang ramah.
Orang itu memiliki banyak kepribadian, tinggal mana yang dipilihnya. Kepribadian itu seperti pakaian, kalau kita kenakan dengan baik, maka kita menjadi pribadi yang dihormati.
Apapun yang anda yakini tentang diri anda, tidak relefan bagi orang lain. Orang lain menetapkan anda seperti apa. Sehingga banyak konsultan jika dia memposisikan diri sebagai ahli marketing, maka dia akan diminta bicara marketing; jika dia memposisikan sebagai ahli leadership, maka dia akan diminta bicara tentang leadership.
Orang lain menetapkan apa yang dipilihkan sebagai perlakuan, tergantung dari kesan. Yang parah adalah apabila kita merasa ramah, sementara orang lain melihat kita sombong. Kalau kita merasa minder, orang lain melihat kita yakin, itu baik; tapi yang sering adalah kita merasa minder, orang lain melihat kita lebih minder.
Maka anjurannya adalah lihatlah kediri anda, karena cara anda menampilkan diri, menetukan perlakuan orang kepada kita.
Saadarlah anda apabila anda berada dalam keadaan yang gelisah. Karena kegelisahan ini terkadang sebagai perintah, untuk mengupayakan pindah ke keadaan yang lebih damai.
Kita adalah orang yang tidak menyukai rasa, dari perintah Tuhan untuk pindah ke tempat yang lebih baik. Kalau kita bergaul dengan orang yang tidak jujur, rasanyapun akan tidak enak, marah dsb, padahal itu perintah kepada kita supaya bergaul-lah dengan orang2 baik.
Jadi kalau kita mengerti rasa dari perintah itu, dan kita tidak suka rasa itu; tetapi kalau kita tahu bahwa rasa itu baik, maka kita akan berusaha menyukai rasa itu, lalu kemudian menegaskan diri untuk mendekatkan diri dalam pergaulan yang baik, mengisi pikiran dengan yang baik, merasa dan melakukan yang baik.
Jadi rasa dari perintah menuju kebaikan, tidak kita sukai. Tetapi kita harus ikhlas memindahkan diri menjdai peribadi yang lebih baik, dan itu adalah kepemimpinan diri yang pertama, berpihak kepada yang membaikkan diri.
Kejujuran adalah bukti bahwa anda ber-Tuhan. Orang yang tidak jujur, walaupun sembahyang, mengumpulkan fakir miskin di rumah dan menyantuninya, itu ibadah dan sedekah pura2.
Kejujuran tetap kejujuran, tidak ada cara apapun untuk yang tidak baik yang digunakan untuk membangun kebaikan. Kebaikan hanya dijalan kebaikan, tidak boleh ada pengetian, bahwa diluar kebaikan ada cara untuk menjadi baik.
Orang2 yang sudah menemukan kerja cerdas, tetap harus melakukan kerja keras. Kenapa banyak orang yang sudah menemukan konsep kerja cerdas hidupnya belum baik?, karena dia merasa tidak harus kerja keras didalam kecerdasannya.
Kecerdasan pertama dalam bekerja adalah bekerja keras. Setelah bekerja keras, baru masuk akal cara2 peningkatan hasil.
Jika sedang malas bekerja, satu2-nya cara untuk meningkatkan hasil adalah bekerja lebih rajin atau bekerja keras. Maka kalau kita ’smart’ kita bekerja keras. Maka nasehatya adalah ‘be smart, work hard’.
Artinya kita dihargai adalah dibayar tinggi. Dihargai asal katanya harga. Jangan percaya kepada atasan yang mengatakan dia menghargai anda, kalau gaji anda tidak besar.
Sadarilah kalau anda masih digaji kecil berarti anda masih kurang dihargai. Maka jadikan diri dihargai lebih, dengan menjadi pribadi yang melebihkan kontribusi bagi perusahaan. Yang tidak menjadi beban kepada perusahaan; karena banyak karyawan yang membuat bingung atasan, ketika ada hal ‘urgent’ sulit mencari orang yang bisa diajak
diskusi, tapi pada saat gajian banyak orang.
Berarti banyak karyawan di suatu perusahaan, yang jika tidak adapun tidak apa2.
Kalau gaji kecil, berhematpun tidak ada gunanya, karena akan selalu kurang. Dan perhatikanlah bahwa berhemat itu tidak selalu baik. Karena berhemat itu, kalau ahli berhemat, orang tidak pernah berpikir lagi untuk menambah pendapatan. Karena gaji berapapun cukup, karena dia ahli berhemat.
Jadi kalau begitu bukan berhematnya yang dihebatkan, tetapi kemampuan untuk menghasilkan pendapatan lebih. Untuk setiap kebingungan, kemarahan, dan tenaga untuk berhemat bisa digunakan sebagaia agresifitas untuk menjual lebih, melayani lebih baik, memikirkan cara2 mendistribusikan produk dengan cara lebih cepat.
Cara efektif untuk naik gaji adalah dengan meminta. Ini cara terbaik untuk naik gaji, karena sebelum melakukan, anda akan tahu kepantasan untuk minta gaji; karena yang tidak pantas naik gaji, tidak mungkin berani melakukan ini.
Apakah anda tahu pekerjaan yang paling sedikit saingannya?
Pekerjaan yang paling sedikit saingannya adalah pekerjaan yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Karena banyak orang yang melakukan bertolak belakang dengan hal ini, dengan datang sesiang mungkin, istirahat selama mungkin, pulang secepat mungkin, tapi sampai di rumah semalam mungkin.
Maka pilihlah jalan yang jarang dilalui orang, yaitu bekerja dengan kesungguhan yang menjadikan kita diutamakan dalam hidup ini.
Maka memintalah kepada Tuhan, sebanyak dan sebesar yang kita percaya Tuhan mampu. Tidak lagi menakar kemmapuan Tuhan untuk menyejahterakan kita dan untuk mengkayakan kita.
Datanglah kepada Tuhan “Tuhan-ku yang Maha Kaya, kayakan-lah aku” lalu bekerjalah dengan besarnya kesungguhan yang memantaskan kita bagi hadiah2 yang besar. Lalu perhatikan apa yang terjadi



0 comments:
Posting Komentar