Banyak orang memimpikan menjadi bintang, tetapi tidak setiap orang berkesungguhan menjadi bintang. Yang menjadi alasan bagi sebagian masalah dalam kehidupan kita adalah besarnya rentang antara yang kita lakukan dan yang benar2 yang bisa kita lakukan.
Kalau pekerjaan Anda hanya menggunakan 5% dari seluruh potensi Anda, jangan harapkan kehidupan yang 100% nilainya. Banyak orang menunda bekerja keras, dia akan bekerja keras kalau nanti digaji lebih, kalau bekerja diperusahaan yang lebih baik dsb. Ada juga yang menyimpan tenaganya kalau atasannya lebih baik.
Mengapa Kita menggunakan standar yang rendah sebagai pembatas bagi pertumbuhan Kita?. Kita bicarakan sekarang mengenai kekuatan yang menjadi bukti dari semangat; yaitu disiplin. Disiplin adalah jalan kebesaran pribadi. Seseorang yang malas tetapi sudah disiplin untuk bekerja, akan rawe2 rantas malang2 putung bekerja. karena orang2 yang hebat adalah yang bisa menjaga sebaik-baiknya sikap dalam seburuk-buruknya keadaan.
Bukti adanya suatu kepemimpian yang baik adalah sungai yang bersih. Tidak mungkin seorang pemimpin yang kuat dan berkuasa mengijinkan tanda kesurgaan kita didunia ini kotor.
Surga itu dipimpin oleh Tuhan, itu sebabnya sungai2 yang mengalir dibawahnya itu indah. Hanya kita yang membiarkan sungai2 kotor itu mengalir didepan kantor2 kenegaraan. Maka bukti kepemimpinan itu baik, adalah sungainya bersih. Karena sungai itu separuh dari tanah air, apa mungkin sungai itu akan bersih kalau tanahnya dibiarkan kotor?. Maka jadilah pemimpin yang sebetulnya, yang memelihara alam.
Mahfud MD:
Orang menganggap bahwa saya ini sukses, tetapi sebenarnya memang inilah seharusnya yang saya capai. Karena sejak kecil, saya dibiasakan hidup untuk selalu terarah.
Disiplin itu bukan hanya tepatnya waktu, tetapi apa yang dipikirkan untuk kita capai, harus menjadi orientasi dari setiap langkah kita. Itu sebabnya saya tidak mau tersandera dari tujuan yang akan saya capai itu. Misalkan, saya menjadi Hakim ini harus menegakan kebenaran dan keadilan, saya tidak boleh tersandera misalnya dengan terlanjur menjanjikan sesuatu kepada seseorang. Atau saya mendapatkan sesuatu secara tidak sah, orang akan menyandera saya. Orang ini akan mendikte saya dalam pengambilan keputusan dalam kasus peradilan. Itulah sebanya saya selalu menjaga dari penyanderaan2 ini.
MT:
Orang yang jalannya lurus akan lebih cepat sampai. Dan nurani kita akan berbunyi kalau kita tidak lurus.
“Kalau mau jadi raja jangan pikirkan yang lain”
Seperti yang Pak Mahfud sampaikan, yang kita inginkan; pikirkan itu, dan itu menjadi kunci menuju kebesaran pribadi yang dijamin dengan disiplin yang kuat.
Mahfud MD:
Saya selalu berusaha untuk berbuat lurus.
Memberikan ide terhadap lingkungan sekitar, dan kita sendiri konsekuen dengan gagasan itu. Tidak bisa Kita mengatakan sesuatu, dan sebetulnya Kita bisa melakukannya sendiri, tetapi kita tidak melakukannya, melainkan hanya menyuruh orang lain. Sikap konsekuen ini akan menimbulkan kepercayaan kepada orang lain, sehingga apapun yang kita katakan berpengaruh.
Bahkan kadangkala orang lain ketika akan melakukan sesuatu itu, harus menunggu Kita terlebih dahulu yang melakukan. Karena orang sangat percaya kepada kita, sehingga orang menjadikan kita sebagai referensi dalam banyak hal. Hal ini hanya akan terjadi kalau kita sejak awal selalu konsekuen dalam setiap langkah kita.
MT:
Mahfud MD yang muda mengangkat beberapa orang untuk naik dalam lingkungannya yang kecil, sampai dia dipercaya lingkungannya yang besar untuk dipimpin. Beliau waktu itu mengangkat lebih banyak orang dalam jabatannya. Jadi beiau memperbesar lagi wilayah pelayanannya. Sehingga beliau dipercayai untuk memimpin yang lebih besar.
Mahfud MD:
Indonesia kalau diibaratkan sebuah hotel, jika dilihat dari segi kekayaannya selevel bintang 5 atau bahkan lebih. Tetapi kalau dilihat dari segi managemen-nya; bukan management hotel bintang 5, tetapi managemen hotel melati.
MT:
Resources kita itu sudah sedemikian kaya. Banyak negara yang tidak sekaya kita bisa membangun dengan baik. Jadi kendala negara kita adalah masalah pengelolaannya.
Mahfud MD:
Dalam managemen desain mental. Saya selalu menghadapai itu dengan tenang. Dicerna dulu masalah yang kita hadapi, baru kita sikapi. Adakalanya kita dihadapkan pada kondisi, yang mengharuskan kita menghadapinya dengan keras, tetapi adakalanya kita juga harus menghadapinya dengan tenang dan santai. Sehingga kita lihat terlebih dahulu situasinya saja. Dari sini kita bisa menentukan sikap apa yang harus kita ambil, sikap keras, sikap santai atau harus dibiarkan saja.
MT:
Kalau dalam bahasa tukang kayu. Tukang yang mempunyai alat-nya hanya palu, dia akan memperlakukan segala sesuatu seperti paku. Jadi jangan gunakan satu alat untuk berbagai keadaan.
Mahfud MD:
Kita itu akan berkesempatan menjadi bintang kalau suasananya sedang kacau balau. Kalau sudah terang benderang, dan bintangnya sudah banyak, kebintangnya tidak akan begitu kelihatan.
Maksudnya bukan berarti saya berharap negara ini tetap kacau balau, sehingga kita kelihatan menjadi bintang, tetapi kalau situasi sedang kacau dan tidak menentu, kemudian kita tampil disitu dengan solusi dan penuh integritas, serta penuh ketulusan, saya kira dengan sendirinya akan menjadi bintang. Meskipun saya tidak pernah merasa menjadi bintang.
Mahfud MD:
Apakah liberalisme itu sebaigai alat untuk kesejahteraan rakyat?, sudah pasti tidak. Karena pancasila itu mengkonsepkan untuk menolak liberalisme atau individualisme, tetapi juga bukan komunisme. Disinlah bertemu antara perlindungan hak2 individu dengan kepentingan hajat hidup orang banyak.
Memang tidak mudah penerapannya dalam kehidupan nyata, dalam prakteknya suatu pemerintahan itu kadang bergeser ke kiri, condong ke liberalisme dsb. Tetapi kita bisa menemukan titik temu diantara itu, dan hal ini bisa tidak menimbulkan masalah, manakala para pemimpinnya itu menyelenggarakannya dengan niat yang baik. Sehigga jika terpaksa kekanan itu bukan sesuatu yang harus disengaja, atau jika terpaksa ke kiri, itu hanya kebutuhan situasi.
Perihal munafik. Memang banyak pemimpin kita itu mempunyai sifat munafik. Munafik itu artinya berbeda mengenai apa yang dilakukannya dengan apa yang dikatakan. Tetapi saya masih yakin, banyak pemimpin2 kita ini yang munafik karena terpaksa.
Munafik karena terpaksa itu adalah kemunafikan yang timbul karena struktur. Misalkan sebetulnya dia itu orang baik, tetapi atasannya tidak baik, sehingga kalau dia tidak mengikuti atasannya karir dia bahaya, keluarga diapun dalam bahaya, sehingga dia terpaksa untuk munafik.
MT:
Hubungan antara iman dan harga diri, yang paling sederhana adalah kalau kita itu kekasih Tuhan, apa yang tidak akan Tuhan lakukan untuk kita sebagai kekasihnya?. Jadi kalau ingin menjadi pribadi yang harganya tinggi, pandangannya dihormati orang, kata2nya didengarkan, prilakunya diteladani; itu kita harus menjadi pribadi yang prilakunya sedekat mungkin dengan kepemimpinan yang diinginkan Tuhan.
Mengenai keadaan sekarang, kita sebagai bangsa Indonesia, harus bisa membedakan dua hal. Yang senang melihat pemimpin jatuh itu politisi, negarawan ingin menyelamatkan negara. Jangan korbankan kemuliaan negara, hanya karena keinginan kita untuk berkuasa, atau paling tidak orang tidak berkuasa. Cari jalan baiknya, hentikanlah proses untuk mencari siapa yang salah, lalu berfokus apa yang bisa kita lakukan lebih baik.
Mahfud MD:
Karakter itu bisa jadi ada kaitannya dengan budaya. Dan ada yang mengatakan bahwa budaya kita itu budaya korup. Hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita percaya. Karena kalau kita percaya bahwa ini budaya kita, berarti ini sulit untuk diperbaiki keculai kita harus menunggu dalam waktu yang cukup lama. Karena kalau budaya itu akan terjadi secara terus menerus.
Ternyata dalam penelitian yang pernah saya lakukan maupun orang lain lakukan, hasilnya tidak demikian. Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh ‘Sebastian Pompe’ tentang Mahkamah Agung misalnya, Indonesia itu sebetulnya tidak mempunyai budaya korup. Korupsi itu baru timbul sejak 1974 di pengadilan itu. Dan sesudah saya buktikan ternyata benar, kalau berjalan mundur dari 1974, 1973, 1972 sampai 1945 korupsi itu tidak ada, mafia peradilan seperti sekarang itu tidak ada.
Hasil penelitian saya, di tahun 1950-an kita itu tidak punya karakter seperti itu. Pengadilan itu pada umunya bersih, paling ada korupsi kecil2, seperti di kantor orang mengambil kertas, karena anaknya di sekolah memerlukan kertas. Tetapi kalau yang korupsi sekarang ini, adalah korupsi karena serakah, bukan karena orang miskin.
Jadi kalau kita berkaca pada tahun 50-an, mental korupsi ini hanya bisa diselesaikan kalau kita punya pimpinan yang tegas dan punya integritas yang bersih. Dirinya sendiri ketika untuk mendapatkan jabatan juga harus bersih, sehingga tidak harus mebayar apapun, dan tidak bisa ditekan oleh siapapun ketika dia menjabat.
Mahfud MD:
Marilah kita menjadi manusia, seperti yang diperintahkan oleh Tuhan. Manusia itu punya hati, yang digunakan untuk memahami dan melaksanakan kebenaran. Manusia juga punya telinga, digunakan untuk mendengarkan kebenaran. Dan punya mata, digunakan juga untuk melihat kebenaran.
Kata Tuhan, kalau manusia punya hati yang tidak digunakan untuk menerima kebenaran, punya mata yang tidak digunakan untuk melihat kebenaran, dan punya telinga yang tidak digunakan untuk mendengar kebenaran, maka manusia ini ibarat binatang. Oleh sebab itu untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, mari kita bangun diri kita menjadi manusia yang benar, jangan hanya menjadi seperti binatang.
MT:
Bagi orang yang disiplin, semangat itu sesuatu yang bisa diabaikannya. Karena seoarang yang disiplin mempunyai keteraturan. Kekuatan didalam keteraturan itu untuk menjadikan dirinya sebesar yang dia inginkan.
Disiplin adalah jalan kebesaran pribadi, dan displin yang utama dalam kehidupan ini adalah setia kepada yang benar. Hanya orang yang berada dalam kebenaran yang hidupnya benar, yang menjadi pribadi yang dimuliakan Tuhan dan sesama.
Anjurannya:
Setialah pada yang benar, maka dahulukanlah keteraturan melakukan sesuatu yang berguna dan menguntungkan orang lain. Lalu perhatikan apa yang terjadi.



0 comments:
Posting Komentar